Jenis Bioploimer

Ada tiga kelompok biopolimer yang menjadi bahan dasar dalam pembuatan film kemasan biodegradable, yaitu :         
1.   Campuran biopolimer dengan polimer sintetis :  film jenis ini dibuat dari campuran granula pati (5 – 20 %) dan polimer sintetis serta bahan tambahan  (prooksidan dan autooksidan) . (http://um.ac.id) Bahan ini memiliki nilai biodegradabilitas yang rendah dan biofragmentasi sangat terbatas. (http://ksupointer.com)
2.   Polimer mikrobiologi (polyester) : biopolimer ini  dihasilkan secara bioteknologis atau fermentasi dengan mikroba genus Alcaligenes .  Biopolimer jenis ini diantaranya polihidroksi butirat (PHB), polihidroksi valerat (PHV), asam polilaktat (polylactic acid) dan asam poliglikolat (polyglycolic acid).  Bahan ini dapat terdegradasi secara penuh oleh bakteri, jamur dan alga.  Namun oleh karena proses produksi bahan dasarnya yang rumit mengakibatkan harga kemasan biodegradable ini relatif mahal.  
3.   Polimer  pertanian : biopolimer ini tidak dicampur dengan bahan sintetis dan diperoleh secara murni dari hasil pertanian. Polimer pertanian ini diantaranya cellulose (bagian dari dinding sel tanaman), cellophan, celluloseacetat, chitin (pada kulit Crustaceae), pullulan (hasil fermentasi pati oleh Pullularia pullulans ).  Polimer hasil pertanian mempunyai sifat termoplastik, sehingga mempunyai potensi untuk dibentuk atau dicetak menjadi film kemasan.  Keunggulan polimer jenis ini adalah tersedia sepanjang tahun (renewable) dan mudah hancur secara alami (biodegradable). Beberapa polimer pertanian yang potensial untuk dikembangkan adalah pati gandum, pati jagung,  kentang, casein, zein, konsentrat whey dan soy protein.
READMORE
 

Pengertian Lingkungan Hidup, Kerusakan Pada Lingkungan dan Upaya Pelestariannya


Pengertian lingkungan hidup bisa dikatakan sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar manusia atau makhluk hidup yang memiliki hubungan timbal balik dan kompleks serta saling mempengaruhi antara satu komponen dengan komponen lainnya. 


Pada suatu lingkungan terdapat dua komponen penting pembentukannya sehingga menciptakan suatu ekosistem yakni komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik pada lingkungan hidup mencakup seluruh makluk hidup di dalamnya, yakni hewan, manusia, tumbuhan, jamur dan benda hidup lainnya. sedangkan komponen abiotik adalah benda-benda mati yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di sebuah lingkungan yakni mencakup tanah, air, api, batu, udara, dan lain sebaiganya.

Pengertian lingkungan hidup yang lebih mendalam menurut No 23 tahun 2007 adalah kesatuan ruang dengan semua benda atau kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya ada manusia dan segala tingkah lakunya demi melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia maupun mahkluk hidup lainnya yang ada di sekitarnya.

pengertian lingkungan hidupImage courtesy of ddpavumba / FreeDigitalPhotos.net

Kerusakan Pada Lingkungan Hidup

Kerusakan pada lingkungan hidup terjadi karena dua faktor baik fator alami ataupun karena tangan-tangan jahil manusia. Pentingnya lingkungan hidup yang terawat terkadang dilupakan oleh manusia, dan hal ini bisa menjadikan ekosistem serta kehidupan yang tidak maksimal pada lingkungan tersebut.

Berikut beberapa faktor secara mendalam yang menjadikan kerusakan lingkungan hidup.

a. Faktor alami
Banyaknya bencana alam dan cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Bencana alam tersebut bisa berupa banjir, tanah longsor, tsunami, angin puting beliung, angin topan, gunung meletus, ataupun gempa bumi. Selain berbahaya bagi keselamatan manusia maupun mahkluk lainnya, bencana ini akan membuat rusaknya lingkungan.

b. Faktor buatan (tangan jahil manusia)
Manusia sebagai makhluk berakal dan memiliki kemampuan tinggi dibandingkan dengan makhluk lain akan terus berkembang dari pola hidup sederhana menuju ke kehidupan yang modern. Dengan adanya perkembangan kehidupan, tentunya kebutuhannya juga akan sangat berkembang termasuk kebutuhan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

Kerusakan lingkungan karena faktor manusia bisa berupa adanya penenbangan secara liar yang menyebabkan banjir ataupun tanah longsor, dan pembuangan sampah di sembarang tempat terlebih aliran sungai dan laut akan membuat pencemaran.

Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup

a. Penanaman kembali hutan yang gundul
b. Pencegahan terhadap buang sampah dan limbah di sembarang tempat
c. Pemberian sanksi ketat terhadap pelaku pencemar lingkungan
d. Menghentikan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan
e. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian tanah, air, udara dan lingkungan

Yup, demikianlah pengertian lingkungan hidup, kerusakan pada lingkungan dan upaya pelestariannya untuk menambah pengetahuan pembaca.
READMORE
 

CARA PEMELIHARAAN LUBANG RESAPAN BIOPORI (LRB)

1. Lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organic.
2.  Sampah organic dapur yang sudah menjadi kompos diambil setelah 2 minggu, sedangkan sampah organic kebun diambil setelah 2 bulan.
3.  Jangan terlalu padat dalam memasukkan sampah organic. Beri celah udara agar organisme tanah bisa mencerna sampah tersebut supaya tidak kekurangan Oksigen.
4.  Jika ada jenis sampah yang berpotensi bau, dapat diatasi dengan cara menutup bagian atas LRB dengan sampah kering.
5.  Memasukkan sampah organic secara berkala pada saat terjadi penurunan volume sampah organik pada LRB.

sumber :
 http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/pemanfaatan-air-hujan/
READMORE
 

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBUATAN LRB

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBUATAN LRB

Menurut UU Pemerintah Tentang Tata Cara pembuatan LRB 
“setiap 100 m2 lahan dapat dibuat  30 lubang biopori dengan jarak 1-1,5 m setiap lubang”


Jumlah LRB = intensitas hujan(mm/jam) x luas bidang kedap (m2) / Laju Peresapan Air per Lubang (liter/jam)
Sebagai contoh, untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap perlu dibuat sebanyak (50 x 100) / 180 = 28 lubang.

Sumber :
http://zainalarif.wordpress.com/2010/05/21/biopori-solusi-banjir-di-perkotaan/
READMORE
 

Inilah 20 Jenis Pepohonan yang Rakus Menyerap CO2

Setiap jenis tanaman memang memiliki kadar penyerapan karbondioksida yang berbeda-beda. Banyak faktor dan sebab yang mempengaruhi hal ini, antara lain berdasarkan mutu klorofil yang ada dalam daun, yang ditentukan oleh banyak sedikitnya magnesium yang menjadi inti klorofil. Semakin besar tingkat magnesium yang dikandung dalam klorofil tumbuhan, warna daun akan semakin berwarna hijau gelap. Sehingga membantu mengoptimalkan proses fotosintesis yang terjadi. Selain itu tumbuhan/pohon buah-buahan termasuk golongan penyerap karbon yang paling baik. Karena tumbuhan berbuah (Spermatophyta) membutuhkan energi yang lebih banyak untuk memproduksi bunga dan buah.

Udahlah cukup ane berkhotbah ane capek ngomong kayak dosen terus. Ntar agan-sista pada ngantuk lagi..

Berikut ini urutan pohon penyerap karbondioksida yang paling rakus versi sumber :

1. Trembesi
sang peneduh jalan

Nama Latin : Samanea saman
Daya serap CO2 : 28.448,39 (Kg/pohon/tahun)

2. Bambu
Ternyata bambu sakti juga

Nama Latin : Banyak gan, g ane cantumin
Daya serap CO2 : up to 12 (Ton/hektar/tahun)

Bambu diyakini memiliki efektivitas penyerapan CO2 yang besar, sekitar 35% lebih baik dari pohon kebanyakan. Selain itu bambu sangat cepat tumbuh, mencapai 60 cm per hari, bergantung spesies, kondisi alam dan tanah tempat bambu tumbuh. Sehingga tak salah bambu menjadi salah satu kunci penyelamat bumi dari bencana global warming.

3. Cassia (Kata orang sih jiplakan kayu manis..)

Nama Latin : Cassia sp.
Daya serap CO2 : 5.295,47 (Kg/pohon/tahun)


4. Kenanga
Biasa buat oleh-oleh ke makam gan
Nama Latin : Canangium odoratum
Daya serap CO2 : 756,59 (Kg/pohon/tahun)

5. Pingku

Ane pernah tau pohonnya, tpi baru tau bentuk buahnya kayak gini


Nama Latin : Dysoxylum excelsum
Daya serap CO2 : 720,49 (Kg/pohon/tahun)

6. Beringin

Nama Latin : Ficus benyamina
Daya serap CO2 : 535,90 (Kg/pohon/tahun)

7. Krey Payung


Nama Latin : Fellicium decipiens
Daya serap CO2 : 404,83 (Kg/pohon/tahun)

8. Matoa

Asli Papua, buah kayak kelengkeng aroma duren gimana gitu, mantab!
Nama Latin : Pometia pinnata
Daya serap CO2 : 329,76 (Kg/pohon/tahun)

9. Mahoni

Nama Latin : Swettiana mahagoni
Daya serap CO2 : 295,73 (Kg/pohon/tahun)

10. Saga


belum pernah liat, tapi sejenis petai-petaian, biji berwarna merah
Nama Latin : Adenanthera pavonina
Daya serap CO2 : 221,18 (Kg/pohon/tahun)

11. Bungur

bunganya kayak lavender raksasa gan..
Nama Latin : Lagerstroemia speciosa
Daya serap CO2 : 160,14 (Kg/pohon/tahun)

12. Jati

Salah satu bahan baku utama furniture mahal
Nama Latin : Tectona grandis
Daya serap CO2 : 135,27 (Kg/pohon/tahun)

13. Nangka

Nama Latin : Arthocarpus heterophyllus
Daya serap CO2 : 126,51 (Kg/pohon/tahun)

14. Johar

Nama Latin : Cassia grandis
Daya serap CO2 : 116,25 (Kg/pohon/tahun)

15. Sirsak

Daunnya terkandung antioksidan kuat yang mampu sembuhkan penyakit
Nama Latin : Annona muricata
Daya serap CO2 : 75,29 (Kg/pohon/tahun)

16. Puspa

Baru tau kalo bisa punya bunga kayak gini
Nama Latin : Schima wallichii
Daya serap CO2 : 63,31 (Kg/pohon/tahun)

17. Akasia

Biasa liat pohon ini di taman
Nama Latin : Acacia auriculiformis
Daya serap CO2 : 48,68 (Kg/pohon/tahun)

18. Flamboyan

Keluarga petai-petaian yang biasa ane temui di pinggir jalan kampung asal ane
Nama Latin : Delonix regia
Daya serap CO2 : 42,20 (Kg/pohon/tahun)

19. Sawo Kecik



buahnya kecil, tapi ane lebih suka sodaranya, sawo manila
Nama Latin : Manilkara kauki
Daya serap CO2 : 36,19 (Kg/pohon/tahun)

20. Tanjung

Nama Latin : Mimusops elengi
Daya serap CO2 : 34,29 (Kg/pohon/tahun)

21. Bunga Merak

Keluarga petai-petaian yang juga biasa menghiasi jalan kampung asal ane
Nama Latin : Caesalpinia pulcherrima
Daya serap CO2 : 30,95 (Kg/pohon/tahun)

source: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12230478
READMORE
 

CARA PEMBUATAN LUBANG RESAPAN BIOPORI


1.    Pilihlah daerah yang tepat untuk membuat lubang biopori, yaitu pada sekeliling pohon, halaman sekolah, kantor , rumah, dan lain-lain.

2.   Lubangi tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 80-100 cm menggunakan linggis, bamboo, atau alat pengebor biopori (lihat gambar)



3.   Perkuat mulut lubang dengan semen sekitar 2-3 cm dan setebal 2cm disekelilingnya.



4.   Isilah lubang tersebut dengan sampah dapur, dedaunan, pangkasan tanaman atau rumput, sampah kebun.




5.   Jika volume sampah berkurang, isilah kembali dengan sampah-sampah seperti yang disebutkan diatas.

6.   Kompos diambil setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan kembali Lubang Resapan Biopori tersebut.


Sumber :

READMORE