Pengertian Lingkungan Hidup, Kerusakan Pada Lingkungan dan Upaya Pelestariannya


Pengertian lingkungan hidup bisa dikatakan sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar manusia atau makhluk hidup yang memiliki hubungan timbal balik dan kompleks serta saling mempengaruhi antara satu komponen dengan komponen lainnya. 


Pada suatu lingkungan terdapat dua komponen penting pembentukannya sehingga menciptakan suatu ekosistem yakni komponen biotik dan komponen abiotik. Komponen biotik pada lingkungan hidup mencakup seluruh makluk hidup di dalamnya, yakni hewan, manusia, tumbuhan, jamur dan benda hidup lainnya. sedangkan komponen abiotik adalah benda-benda mati yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di sebuah lingkungan yakni mencakup tanah, air, api, batu, udara, dan lain sebaiganya.

Pengertian lingkungan hidup yang lebih mendalam menurut No 23 tahun 2007 adalah kesatuan ruang dengan semua benda atau kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya ada manusia dan segala tingkah lakunya demi melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia maupun mahkluk hidup lainnya yang ada di sekitarnya.

pengertian lingkungan hidupImage courtesy of ddpavumba / FreeDigitalPhotos.net

Kerusakan Pada Lingkungan Hidup

Kerusakan pada lingkungan hidup terjadi karena dua faktor baik fator alami ataupun karena tangan-tangan jahil manusia. Pentingnya lingkungan hidup yang terawat terkadang dilupakan oleh manusia, dan hal ini bisa menjadikan ekosistem serta kehidupan yang tidak maksimal pada lingkungan tersebut.

Berikut beberapa faktor secara mendalam yang menjadikan kerusakan lingkungan hidup.

a. Faktor alami
Banyaknya bencana alam dan cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Bencana alam tersebut bisa berupa banjir, tanah longsor, tsunami, angin puting beliung, angin topan, gunung meletus, ataupun gempa bumi. Selain berbahaya bagi keselamatan manusia maupun mahkluk lainnya, bencana ini akan membuat rusaknya lingkungan.

b. Faktor buatan (tangan jahil manusia)
Manusia sebagai makhluk berakal dan memiliki kemampuan tinggi dibandingkan dengan makhluk lain akan terus berkembang dari pola hidup sederhana menuju ke kehidupan yang modern. Dengan adanya perkembangan kehidupan, tentunya kebutuhannya juga akan sangat berkembang termasuk kebutuhan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

Kerusakan lingkungan karena faktor manusia bisa berupa adanya penenbangan secara liar yang menyebabkan banjir ataupun tanah longsor, dan pembuangan sampah di sembarang tempat terlebih aliran sungai dan laut akan membuat pencemaran.

Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup

a. Penanaman kembali hutan yang gundul
b. Pencegahan terhadap buang sampah dan limbah di sembarang tempat
c. Pemberian sanksi ketat terhadap pelaku pencemar lingkungan
d. Menghentikan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan
e. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian tanah, air, udara dan lingkungan

Yup, demikianlah pengertian lingkungan hidup, kerusakan pada lingkungan dan upaya pelestariannya untuk menambah pengetahuan pembaca.
READMORE
 

CARA PEMELIHARAAN LUBANG RESAPAN BIOPORI (LRB)

1. Lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organic.
2.  Sampah organic dapur yang sudah menjadi kompos diambil setelah 2 minggu, sedangkan sampah organic kebun diambil setelah 2 bulan.
3.  Jangan terlalu padat dalam memasukkan sampah organic. Beri celah udara agar organisme tanah bisa mencerna sampah tersebut supaya tidak kekurangan Oksigen.
4.  Jika ada jenis sampah yang berpotensi bau, dapat diatasi dengan cara menutup bagian atas LRB dengan sampah kering.
5.  Memasukkan sampah organic secara berkala pada saat terjadi penurunan volume sampah organik pada LRB.

sumber :
 http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/pemanfaatan-air-hujan/
READMORE
 

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBUATAN LRB

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBUATAN LRB

Menurut UU Pemerintah Tentang Tata Cara pembuatan LRB 
“setiap 100 m2 lahan dapat dibuat  30 lubang biopori dengan jarak 1-1,5 m setiap lubang”


Jumlah LRB = intensitas hujan(mm/jam) x luas bidang kedap (m2) / Laju Peresapan Air per Lubang (liter/jam)
Sebagai contoh, untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap perlu dibuat sebanyak (50 x 100) / 180 = 28 lubang.

Sumber :
http://zainalarif.wordpress.com/2010/05/21/biopori-solusi-banjir-di-perkotaan/
READMORE
 

Inilah 20 Jenis Pepohonan yang Rakus Menyerap CO2

Setiap jenis tanaman memang memiliki kadar penyerapan karbondioksida yang berbeda-beda. Banyak faktor dan sebab yang mempengaruhi hal ini, antara lain berdasarkan mutu klorofil yang ada dalam daun, yang ditentukan oleh banyak sedikitnya magnesium yang menjadi inti klorofil. Semakin besar tingkat magnesium yang dikandung dalam klorofil tumbuhan, warna daun akan semakin berwarna hijau gelap. Sehingga membantu mengoptimalkan proses fotosintesis yang terjadi. Selain itu tumbuhan/pohon buah-buahan termasuk golongan penyerap karbon yang paling baik. Karena tumbuhan berbuah (Spermatophyta) membutuhkan energi yang lebih banyak untuk memproduksi bunga dan buah.

Udahlah cukup ane berkhotbah ane capek ngomong kayak dosen terus. Ntar agan-sista pada ngantuk lagi..

Berikut ini urutan pohon penyerap karbondioksida yang paling rakus versi sumber :

1. Trembesi
sang peneduh jalan

Nama Latin : Samanea saman
Daya serap CO2 : 28.448,39 (Kg/pohon/tahun)

2. Bambu
Ternyata bambu sakti juga

Nama Latin : Banyak gan, g ane cantumin
Daya serap CO2 : up to 12 (Ton/hektar/tahun)

Bambu diyakini memiliki efektivitas penyerapan CO2 yang besar, sekitar 35% lebih baik dari pohon kebanyakan. Selain itu bambu sangat cepat tumbuh, mencapai 60 cm per hari, bergantung spesies, kondisi alam dan tanah tempat bambu tumbuh. Sehingga tak salah bambu menjadi salah satu kunci penyelamat bumi dari bencana global warming.

3. Cassia (Kata orang sih jiplakan kayu manis..)

Nama Latin : Cassia sp.
Daya serap CO2 : 5.295,47 (Kg/pohon/tahun)


4. Kenanga
Biasa buat oleh-oleh ke makam gan
Nama Latin : Canangium odoratum
Daya serap CO2 : 756,59 (Kg/pohon/tahun)

5. Pingku

Ane pernah tau pohonnya, tpi baru tau bentuk buahnya kayak gini


Nama Latin : Dysoxylum excelsum
Daya serap CO2 : 720,49 (Kg/pohon/tahun)

6. Beringin

Nama Latin : Ficus benyamina
Daya serap CO2 : 535,90 (Kg/pohon/tahun)

7. Krey Payung


Nama Latin : Fellicium decipiens
Daya serap CO2 : 404,83 (Kg/pohon/tahun)

8. Matoa

Asli Papua, buah kayak kelengkeng aroma duren gimana gitu, mantab!
Nama Latin : Pometia pinnata
Daya serap CO2 : 329,76 (Kg/pohon/tahun)

9. Mahoni

Nama Latin : Swettiana mahagoni
Daya serap CO2 : 295,73 (Kg/pohon/tahun)

10. Saga


belum pernah liat, tapi sejenis petai-petaian, biji berwarna merah
Nama Latin : Adenanthera pavonina
Daya serap CO2 : 221,18 (Kg/pohon/tahun)

11. Bungur

bunganya kayak lavender raksasa gan..
Nama Latin : Lagerstroemia speciosa
Daya serap CO2 : 160,14 (Kg/pohon/tahun)

12. Jati

Salah satu bahan baku utama furniture mahal
Nama Latin : Tectona grandis
Daya serap CO2 : 135,27 (Kg/pohon/tahun)

13. Nangka

Nama Latin : Arthocarpus heterophyllus
Daya serap CO2 : 126,51 (Kg/pohon/tahun)

14. Johar

Nama Latin : Cassia grandis
Daya serap CO2 : 116,25 (Kg/pohon/tahun)

15. Sirsak

Daunnya terkandung antioksidan kuat yang mampu sembuhkan penyakit
Nama Latin : Annona muricata
Daya serap CO2 : 75,29 (Kg/pohon/tahun)

16. Puspa

Baru tau kalo bisa punya bunga kayak gini
Nama Latin : Schima wallichii
Daya serap CO2 : 63,31 (Kg/pohon/tahun)

17. Akasia

Biasa liat pohon ini di taman
Nama Latin : Acacia auriculiformis
Daya serap CO2 : 48,68 (Kg/pohon/tahun)

18. Flamboyan

Keluarga petai-petaian yang biasa ane temui di pinggir jalan kampung asal ane
Nama Latin : Delonix regia
Daya serap CO2 : 42,20 (Kg/pohon/tahun)

19. Sawo Kecik



buahnya kecil, tapi ane lebih suka sodaranya, sawo manila
Nama Latin : Manilkara kauki
Daya serap CO2 : 36,19 (Kg/pohon/tahun)

20. Tanjung

Nama Latin : Mimusops elengi
Daya serap CO2 : 34,29 (Kg/pohon/tahun)

21. Bunga Merak

Keluarga petai-petaian yang juga biasa menghiasi jalan kampung asal ane
Nama Latin : Caesalpinia pulcherrima
Daya serap CO2 : 30,95 (Kg/pohon/tahun)

source: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12230478
READMORE
 

CARA PEMBUATAN LUBANG RESAPAN BIOPORI


1.    Pilihlah daerah yang tepat untuk membuat lubang biopori, yaitu pada sekeliling pohon, halaman sekolah, kantor , rumah, dan lain-lain.

2.   Lubangi tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 80-100 cm menggunakan linggis, bamboo, atau alat pengebor biopori (lihat gambar)



3.   Perkuat mulut lubang dengan semen sekitar 2-3 cm dan setebal 2cm disekelilingnya.



4.   Isilah lubang tersebut dengan sampah dapur, dedaunan, pangkasan tanaman atau rumput, sampah kebun.




5.   Jika volume sampah berkurang, isilah kembali dengan sampah-sampah seperti yang disebutkan diatas.

6.   Kompos diambil setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan kembali Lubang Resapan Biopori tersebut.


Sumber :

READMORE
 

Bahaya Plastik Bagi Lingkungan dan Kehidupan


Plastik sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern saat ini dimulai sejak era tahun 1940 andan 50 an, walaupun plastik dianggap berbahaya baik bagi lingkungan maupun kehidupan makhluk hidup.
Banyak hal saat ini terbuat dari plastik, mulai dari kantong belanjaan, botol, kaleng, peralatan rumah tangga, cd, pipa, helm, handphone, tv, kulkas, mesin, kendaraan, dll. Terlepas dari segala kemudahan dan keuntungan menggunakan plastik, ternyata plastik juga membawa bencana bagi lingkungan termasuk makhluk hidup di dalamnya.
Apa yang menyebabkan plastik berbahaya?
Berbahayanya plastik terkait erat dengan sifatnya yang non-biodegradable, yakni tak akan pernah bisa di uraikan oleh organisme pengurai di alam. Yangterjadi hanyalah, plastik menjadi potongan-potongan kecil di alam dan itupun memerlukan proses yang sangat lama yang bisa mencapai 1000 tahun, tergantung dari jenis dan kondisi plastiknya. Walaupunplastik menjadi sangat kecil seperti partikel debu, tetap saja ia adalah plastik.. Artinya bahan plastik akan selama-lamanya berada di alam, dan akan menimbulkan polusi lingkungan, baik di darat, laut, maupun udara.
Partikel-partikel plastik itu akan mempengaruhi lingkungan dan kehidupan dalam banyak hal. Hewan-hewan, baik di darat maupun laut, bisa memakan potongan kecil plastik itu secara tak sengaja yang menyebabkan gangguan pencernaan dan bisa berujung pada kematian karena tubuh tak bisa mengolahnya. Bahkan ketika hewan tadi mati, membusuk, dan terurai, plastik yang tertimbun di tubuhnya akan kembali ke alam danbisa dimakan oleh hewan lainnya, dan begitu seterusnya siklus berulang kembali.
Partikel-partikel plastik tentunya juga bisa masuk ke tubuh manusia, baik melalui hewan, peralatan sehari-hari yang dipakai terutama untuk makan dan minum, melalui air yang tercemar limbah plastik,ataupun melalui debu-debu di udara.
Hal yang menambah bahaya dari plastik adalah zat-zat kimia berbahaya yang dikandungnya, yang ditambahkan selama proses pembuatan plastik, yang bisa mengganggu kerja sistem tubuh dan bisa menyebabkan kanker. Jadi bisa dibayangkan sendiri akibat yang ditimbulkan jika zat-zat kimia berbahaya ini ikut masuk bersama partikel plastik ke dalam tubuh makhluk hidup termasuk manusia.
Proses pembuatan plastik juga banyak melepaskan gas-gas beracun ke udara, baik yang membahayakan kesehatan makhluk hidup maupun membahayakan atmosfer bumi. Begitu juga di dalam proses pendaur ulangannya. Oleh karena itu daur ulang plastik sebenarnya bukanlah solusi total dari usaha mengurangi dan mencegah pencemaran lingkungan oleh plastik. Bahkan plastik tak akan bisa didaur ulang selama-lamanya karena mutu dan kualitasnya akan semakin menurun, sehingga pembuatan plastik baru pun tak bisa dielakkan.
Bagaimana dengan membakar plastik? Efeknya sama saja jeleknya karena dengan membakar plastik akan melepaskan zat-zat berbahaya ke udara, termasuk dioxin, salah satu zat paling beracun yang pernah ada.
Selain itu, proses pembuatan plastik juga melibatkan penggunaan minyak bumi yang tidak sedikit. Padahal sebagaimana yang kita ketahui cadangan minyak bumi di dunia semakin menipis, dan minyak bumi semakin hari menjadi barang yang makin langka dan oleh karenanya semakin mahal untuk digunakan sebagai bahan bakar bagi aktifitas manusia.
Setelah kita menyadari bahaya plastik bagi kehidupan di bumi, tentunya diperlukan langkah-langkah nyata untukmenyelamatkan lingkungan hidup kita. Selain memang masih diperlukannya daur ulang plastik (walaupun tak banyak memberi efek positif, dimana sebaiknya dilakukan pemisahan sampah yang terbuat dari plastik dengan sampah-sampah lainnya semenjak dari lingkungan rumah tangga), perlu kiranya dilakukan pengurangan pemakaian dan produksi plastik di muka bumi.
Di berbagai negara maju di luar negeri, sudah digalakkan program berbelanja dengan membawa kantong sendiri dimana saya belum pernah mendengarnya diadakan di Indonesia. Bahkan di Indonesia, tradisi membuang sampah pada tempatnya masih belum tampaknyata realisasinyadalam keseharian hidup bermasyarakat. Sampah dengan mudahnya kita temukan dimana-mana, di jalanan, di saluran air, sungai-sungai, dsb.
Pemakaian tas-tas atau kantong yang tak terbuat dari bahan plastik juga harus digalakkan. Selain itu harus dilakukan kampanye penyuluhan pada masyarakat akan bahaya plastik ini sehingga masyarakat bisa secara aktif dan sadar untuk mengurangi ketergantungan dan penggunaan plastik.
Saat ini para ilmuwan juga sedang meneliti pembuatan plastik yang bisa diuraikan oleh alam termasuk di dalamnya yang bisa diuraikan oleh cahaya. Akan tetapi jika ini bisa terwujud tentunya juga tak akan menyelesaikan semua permasalahan, mengingat hanya sampah-sampah plastik di permukaan sajalah yang akan terurai oleh cahaya matahari dantidak akan menyentuh plastik yang tertimbun di dalam tanah.
Di akhir kata, selain tak memungkiri masih pentingnya plastik dalam kehidupan manusia, perlu kiranya produksi dan pemakaiannya dilakukan secara logis dan terbatas sehingga tak merusak ekosistem dan kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Dan hendaknya kita semua sadar tentang isu lingkungan yang penting ini, dan turut berperan sesuai dengan fungsi dan kemampuan masing-masing demi menjaga kelangsungan kehidupan di muka bumi ini.
READMORE